Senin, 10 Desember 2012

Perilaku kelompok


PERILAKU KELOMPOK
Definisi Dan Klasifikasi Kelompok
Ø  Definisi kelompok
Kelompok merupakan dua individu atau lebih, yang berintraksi dan saling bergantung, yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu.
Ø  Pengklasifikasian kelompok
1.      Kelompok formal
Merupakan kelompok yang ditetapkan berdasarkan struktur organisasi, dengan penugasan kerja yang sudah ditentukan. Bentuk-bentuk  kelompok formal antara lain:
a.       Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi, seorang manajer dan semua bawahannya.
b.      Kelompok tugas ditetapkan oleh organisasi, menunjukkan mereka yang bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan pekerjaan.
2.      Kelompok informal
Merupakan persekutuan yang tidak berstruktur secara formal dan tidak ditetapkan secara organisasi. Kelompok ini terbentuk secara alamiah dalam suasana kerja yang muncul sebagai tanggapan terhadap kebutuhan akan kontak sosial. Bentuk-bentuknya:
a.       Kelompok kepentingan merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan khusus dan yang menjadi perhatian masing-asing orang.
b.      Kelompok persahabatan, kelompok ini terbentuk karena masing-masing anggota mempunyai satu atau lebih karakteristik yang sama.

Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok
·         Model Lima-Tahap
Tahap pertama, pembentukan, dicirikan oleh banyak sekali ketidakpastian mengenai maksud, struktur dan kepemimpinan kelompok. Para anggota melakukan uji coba untuk menentukan tipe-tipe perilaku yang dapat diterima dengan baik. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok.
Tahap kedua, keributan adalah tahap komplik didalam kelompok. Para anggota menerima baik eksistensi kelompok, tetapi melawan batasan-batasan yang diterapkan oleh kelompok terhadap individualitas.
Tahap ketiga, penormaan adalah tahap dimana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok menunjukkan sifat kohesif (saling-tarik). Tahap ini selasai bila struktur kelompok telah kokoh dan kelompok itu telah menyesuaikan serangkaian harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar.
Tahap kekempat, pengerjaan/pelaksanaan pada tahap ini struktur itu telah sepenuhnya berfungsi dan diterima dengan baik.Energi kelompok telah bergeser dari mencoba mengerti dan memahami satu sama lain menjadi pelaksanaan tugas yang ada di depan mata.
Tahap kelima,peristirahatan merupakan tahap terakhir dalam pengembangan kelompok pada kelompok sementara,dicirikan oleh perhatian ke penyelesaian aktivitas bukannya ke kinerja tugas.
            Banyak penafsir model lima tahap mengasumsikan bahwa kelompok menjadi lebih efektif ketika kelompok itu maju melewati empat tahap yang pertama.Kelompok tidak selalu maju dengan jelas dari satu tahap ke tahap brikutnya.Kadang,memang beberapa tahap berlangsung secara serentak,seperti bila kelompok itu ribut dan sekaligus melaksanakan tugas.Bahkan terkadang kembali ke tahap sebelumnya.
·         Model Alternatif:Untuk Kelompok Temporer dengan Tenggat
Kelompok-kelompok temporer yang dibatasi tenggat waktu tamaknya tidak mengikuti model sebelumnya.Studi-studi menunjukan bahwa kelompok itu meiliki urutan tindakan (atau bukan-tindakan)mereka sendiri yang unik.Urutan-urutan tersebut sebagai berikut:
            Pertemuan pertama menentukan arah kelompok.Kerangka pola peilaku dan asumsi dimana kelompok akan melakukan pendekatan terhadap proyeknya muncul dalam pertemuan pertama ini.Pola-pola yang bertahan lama dapat muncul dini pada detik-detik pertama usia kelompok itu.
            Begitu ditentukan,arah kelompok menjadi tetap bagaikan “ditulis di atas batu” dan kemungkinannya kecl untuk diperiks-ulang sepanjang paruh pertama usia kelompok.Inilah periode  inersia-yaitu kelompok cendrung berdiam diri atau menjadi terkunci kedalam arah tindakan yang tetap.Bahkan jika kelompok memperoleh wawasan baru yang menantang pola-pola dan asumsi awal,kelompok tidak mampu bertindak berdasarkan wawasan-wawasan baru dalam fase 1 ini.
            Salah satu penemuan lebih menarik yang dijumpai dalam studi ini adalah bahwa tiap kelompok mengalami transisi pada titik yang sama dalam kalendernya-tepatnya separuh jalan antara pertemuan pertama dan tanggat waktu resmi-mskipun faktanya ada beberapa kelompok yang menghabiskan waktu sedikit,
            Transisi ini mengakhiri Fase 1 dan dicirikan oleh ledakan perubahan yang dicirikan oleh ledakan perubahan yang terkonsentrasi,dengan menanggalkan pola-pola lama,dan mengadopsi persfektif baru.Transisi itu menentukan arah revisi  Fase 2.
            Fase 2 adalah keseimbangan baru atau kurun waktu inersia baru.Dalam fase ini,kelompok menjalankan rencana-rencana yang diciptakan selama periode transisi.
            Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh ledakan terakhir dari kegiatan untuk menyelesaikan kerjanya.

Sumber Daya Anggota Kelompok
1        Pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
Sebagian kinerja kelompok dapat diperkirakan dengan menilai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masing-masing anggota. Kinerja kelompok tidaklah sekedar penjumlaha dari kemampuan masing-masing anggota. Akan tetapi, kemampuan ini menentukan parameter atas untuk apa yang dapatdilakukan oleh para anggota dan betapa efektif mereka akan melakukannya dalam kelompok.
2        Karakteristik kepribadian
Ada banyak riset tentang hubungan antara ciri kepribadian, dan sikap beserta perilaku kelompok. Kesimpulan umumnya adalah bahwa ciri yang cendrung mempunyai konotasi positif dalam budaya kita akan cendrung berhubungan secara positif dengan poduktivitas, semangat, dan kekohesifan kelompok.



Struktur kelompok
1        Kepemimpinan formal
Hampir setiap kelompok kerja mempunyai pemimpin formal. Orang ini umumnya mempunyai jabatan seperti misalnya, manajer unit, manajer bagian, penyelia, mandor, pimpinan proyek, kepala satuan tugas, ataupun ketua komite.
2        Peran
Merupakan seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial tertentu. Orang mempunyai kemampuan untuk dengan cepat beralih peran bila mereka menyadari bahwa situasi dan tuntutannya jelas-jelas membutuhkan perubaan besar.
Pandangan seseorang mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu disebut persepsi peran. Dimana kita memperoleh persepsi-psrsepsi itu dari semua rangsangan disekitar kita seperti teman, buku, film, TV.
Dalam pengharapan peran yakni bagaimana orang lain menyakini apa seharusnya tindakan anda dalam situasi tertentu. bagaimana anda berperilaku, sebagian besar ditentukan oleh peran yang didefinisikan dalam konteks tindakan anda. Namun bila individu dihadapkan pada pengharapan peran yang berlainan, akibatnya adalah konflik peran. Konflik ini muncul bila individu menemukan bahwa patuh pada tuntutan satu peran menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran lain.
3        Norma
Merupakan standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh para anggota kelompok. Norma memberitahu para anggota apa yang seharusnya dan tidak seharunya dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu. Selain itu juga terdapat beberapa kelas-kelas norma umum diantaranya:
§  Norma kinerja, yaitu norma yang paling tersebar luas. Lazimnya kelompok kerja memberikan keanggota mereka petunjuk-petunjuk eksplisit mengenai seberapa keras seharusnya mereka bekerja, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, tingkat ouput, saluran komunikasi yang benar dan lain-lain. Norma-norma ini luar biasa ampuh dalam mempengaruhi kinerja karyawan. Norma seperti ini mampu memodifikasi secara bermakna prediksi kerja yang semaa-mata didasarkan pada kemampuan karyawan itu dan tingkat motivasi pribadinya.
§  Norma penampilan, ini mencakup pakaian yang pantas, kesetiaan ke kelompok kerja atau organisasi, kapan harus terlihat sibuk, dan kapan boleh membuang-buang waktu.
§  Norma tata sosial, norma ini berasal dari kelompok kerja informal dan terutama mengatur intraksi sosial didalam kelompok.
§  Alokasi norma sumber daya, norma ini dapat berasal dari dalam kelompok atau dari dalam organisasi dan mencakup gaji, pembagian pekerjaan yang sulit, dan alokasi alat dan peralatan baru.
Sebagai anggota kelompok, kita sangat menginginkan diterima oleh kelompok itu, jadi disini kita sangat membutuhkan semacam kelompok referensi yaitu kelompok penting dimana individu menjadi anggota dan berharap menjadi anggota dan ke norma kelompok itu individu akan menyesuaikan diri. Sehingga dapat membentuk konformitas yaitu penyesuain perilaku seseorang agar sesuai dengan norma kelompok.
Perilaku menyimpang ditempat kerja, minsalnya seorang karyawan melaporkan tentang meningkatnya kekasaran dan sifat tak peduli terhadap orang lain yang dilakukan oleh boz dan rekan kerja pada tahun-tahun terakhir. Dan hampir separuh karyawan yang menderita perlakuan kasar ini melaporkan bahwa langkah itu telah membuat mereka berfikir untuk berganti pekerjaan, dimana 12 persen benar-benar keluar karenanya.
4        Status
Merupakan posisi atau peringkat yang ditentuka secara sosial yang diberikan kekelompok atau anggota kelompok lain. Status merupakan faktor penting dalam memahami perilaku manusia karena status merupakan motivator yang cukup penting dan mempunyai konsekuensi-konsekuensi prilaku yang lebih utama bila individu mempersepsikan disparitas antara apa yang mereka yakini tentang bagaimana status mereka dan apa yang orang lain persepsikan.
Telah ditunjukkan bahwa status mempunyai beberapa pengaruh yang menarik terhadap kekuatan norma dan tekanan untuk penyesuaian. Minsalnya, anggota yang berstatus tinggi pada kelompok sering diberi lebih banyak kebebasan untuk menyimpang dari norma disbanding anggota kelompok lain. Penting juga bagi anggota kelompok untuk menyakini bahwa hirarki status itu setara. Jika dipersepsikan dengan adanya kesearaan, terciptalah ketidakseimbangan yang terjadi dalam berbagai jenis perilaku korektif.
5        Komposisi
Kebanyakan kegiatan kelompok menuntut anekaragam keterampilan dan pengetahuan. Dengan adanya tuntutan ini, bias disimpulkan bahwa kelompok heterogen-kelompok yang terbentuk dari individu-individu yang tidak mirip-akan lebih besar kemungkinannya untuk mempunyai kemampuan dan informasi yang beraneka dan seharusnya lebih efektif.
6        Kepaduan (cohesiveness)
Kelompok-kelompok itu berbeda menurut kepaduan mereka, yaitu sejauh mana para anggota tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap didalam kelompok. Minsalnya, beberapa anggota kelompok berpadu karena para anggota telah menghabiskan seberapa besar waktu bersama, atau ukuran kecil kelompok memudahkan intraksi yang tinggi, atau kelompok mengalami ancaman eksternal yang membuat para anggota lebih erat. Kepaduan itu penting karena berhubungan dengan produktivitas kelompok.

Proses kelompok
Dalam tugas-tugas kelompok dimana sumbangan tiap anggota tidak tampak dengan jelas, ada kecendrungan bagi individu untuk mengurangi upaya mereka. Dengan kata lain, kemalasan yang sosial melukisan kerugian proses sebagai sebagai akibat dari penggunaan kelompok-kelompok. Tetapi proses kelompok juga dapat menghasilkan hasil yang positip. Yaitu, kelompok dapat menciptakan output yang lebih besar dari pada jumlah inputnya.

Tugas-tugas kelompok
Tugas kelompok yang pertama adalah,mempertimbangkan situs-situs lokasi yang mungkin untuk pengilangan baru. Keputusan akan mempengaruhi orang-orang dalam banyak bidang perusahaan itu seperti produksi, rekayasa, pemasaran, distribusi, pembelian, pengembangan real estate, dan sebagainya. Sehingga orang-orang penting dari setiap bidang ini perlu memberikan masukan didalam keputusan itu.
Tugas kelompok yang kedua adalah,mengkoordinasi pembangunan pengilangan setelah lokasinya dipilih, desainnya difinalkan, dan pengaturan keuangannya diselesaikan.
Riset mengenai efektifitas kelompok mengatakan kepada kita bahwa manajemen dinasehati untuk menggunakan kelompok yang lebih besar untuk tugas pertama, daripada untuk tugas kedua. Alasannya adalah bahwa kelompok besar memudahkan pengumpulan informasi. Dengan penambahan persfektif yang beraneka kekomite pemecahan masalah lazimnya menghasilkan keuntungan proses. Tapi bila tugas kelompok adalah mengkoordinasi dan melaksanakan keputusan kerugian proses akibat kehadiran setiap anggota tambahan kemudian lebih besar dari pada kemungkinan proses yang dihasilkannya.

Pengambilan keputusan kelompok
1        Kelompok lawan individu
a)      Kekuatan pengambilan keputusan kelompok
Kelompok menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap dengan menyatukan berbagai smber daya dari beberapa individu, dan membawa lebih banyak masukan dalam proses keputusan. Selain lebih banyak masukan, kelompok dapat membawa heterogenitas keproses keputusan.
b)      Kelemahan pengambilan keputusan kelompok
Meskipun ada banyak nilai tambahan, keputusan kelompok memiliki kelemahan. Pengambilan keputusan kelompok menghabiskan waktu. Khususnya membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencapai pemecahan disbanding dalam kasus dimana keputusan diambil seorang saja. Ada tekanan konformitas dalam kelompok. Hasrat dari anggota-anggota kelompok untuk diterima dan dianggap sebagai asset bagi kelompok itu dapat mengakibatkan dihentikannya setiap ketidaksepakatan yang muncul. Keputusan kelompok dapat didominasi oleh satu atau beberapa orang. Jika kualisi dominasi ini terdiri atas anggota dengan kemampuan rendah atau sedang, efektifitas seluruh kelompok akan berkurang. Akhirnya, keputusan kelompok menjadi tidak efektif akibat tanggung jawab yang ambigu.
2         Pemikiran kelompok dan pergeseran kelompok
Dua efek samping dari pengambilan keputusan kelompok mempunyai potensi mempengaruhi kemampuan kelompok untuk menilai alternatif-alternatif secara positif dan menghasilkan solusi keputusan yang berkualitas. Fenomena yang pertama, yang disebut pikiran kelompok dikaitkan dengan norma-norma. Fenomena ini menggambarkan situasi dimana tekanan kelompok untuk kesesuaian menghalangi kelompok untuk menghargai secara kritis pandangan-pandangan yang tak biasa, minoritas atau tak populer. Fenomena yang kedua, disebut pergeseran kelompok. Fenomena ini mengindikasikan bahwa dalam membahas seperangkat alternatif dan mencapai pemecahan tertentu, para anggota kelompok cendrung membesar-besarkan posisi (pendirian) awal yang mereka anut.

Gejala-gejala dan fenomena pemikiran kelompok:
a.       Para anggota kelompok merasionlisasi setiap penolakan terhadap asumsi yang telah mereka ambil.
b.      Para anggota menerapkan tekanan langsung kemereka yang  mengungkapkan keraguan mengenai setiap pandangan bersama kelompok atau mereka yang mempertanyakan validitas(kesahehan) argument yang didukung oleh mayoritas.
c.       Anggota yang meragukan ata mempunyai titik pandang yang berbeda berusaha menghindari penyimpangan dari apa yang tampaknya merupakan consensus kelompok dengan tetap tidak menyuarakan keraguannya dan bahkan menyakinkan diri mereka sendiri mengenai kurang pentingnya keraguan.
d.      Terlihat ada ilusi (hayalan) atas aklamasi.

Gejala pergeseran kelompok yaitu lebih sering terjadi kearah resiko yang lebih besar. Seperti diskusi yang menimbulkan pergeseran pendapat anggota yang signifikan kependapat yang lebih lebih ektrem kependapat mereka sebelum melakukan diskusi. Jadi tipe konservatif bersifat lebih hati-hati dan tipe yang lebih agresif mengambil lebih banyak resiko.

Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok
Bentuk paling lazim dari pengambilan keputusan kelompok terjadi dalam kelompok interaksi. Dalam kelompok ini, para anggota bertatap muka dan mengandalkan interaksi verbal maupun nonverbal untuk berkomunikasi satu sama lain. Kelompok interaksi sering menyensor diri mereka dan menekan masing-masing anggota kearah kesesuaian pendapat seperti sumbangan saran yang dimaksudkan untuk mengatasi tekanan-tekanan untuk mencapai kesesuain dalam kelompok interaksi itu yang bias menghambat pengembangan alternatif-alternatif kreatif.
Teknik kelompok nominal, membatasi pembahasan atau komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan keputusan, karena itu disebut nominal. Semua anggota kelompok secara fisik hadir, seperti dalam pertemuan komite tradisional, tetapi anggota- anggota itu melakukan tugasnya secara independen. Secara khusus, masalah disajikan dan kemudian langkah- langkah berikut diambil:
1.      Para anggota melakukan rapat sebagai kelompok, tetapi sebelum diskusi berlansung, tiap anggota secara independen menuliskan gagasan-gagasannya mengenai masalah itu.
2.      Setelah sedikit masa hening, tiap anggota menyajikan satu gagasan kelompok. Tiap anggota mengambil gilirannya secara berkeliling meja, dengan menyajikan satu gagasan saja sampai semua gagasan telah disajikan dan direkam (lazimnya pada papan tulis dengan kapur atau lembar kertas[flip chart]). Tidak dilakukan pembahasan sebelum seemua gagasan dicatat.
3.      Sekarang kelompok membahasa gagasan-gagasan untuk memperjelas dan menilai gagasan itu.
4.      Tiap anggota kelompok tanpa  berkomenter dan secara sendiri-sendiri mengurutkan peringkat gagasan. Keputusan akhir ditentukan oleh gagasan yang mendapat peringkat tertinggi.
Kekuatan utama teknik kelompok nominal adalah bahwa teknik ini memungkinkan kelompok bertemu secara formal tetapi tidak membatasi pemikiran bebas, seperti kelompok interaksi.

Ringkasan Dan Implikasi Bagi Para Manajer
1.      Kinerja
Sejumlah factor structural menunjukan hubungan dengan kinerja. Dimana factor yang lebih menonjol adalah persepsi peran, norma, ketidak setaraan status, ukuran kelompok, susunan demografinya, tugas kelompok dan kohesivitas.
Ada hubungan positif antara persepsi peran dan evaluasi kinerja terhadap karyawan. Kadar keselarasan yang ada antara karyawan dan atasannya mengenai persepsi atas pekerjaan karyawan itu mempengaruhi kadar sejauh man karyawan itu akan dinilai sebagai pekerja yang efektif oleh atasannya. Selama persepsi peran karyawan itu memenuhi pengharapan peran dari sang atasan, karyawan itu menerima evaluasi kinerja yang lebih tinggi.
Dampak ukuran pada kinerja kelompok bergantung pada jenis tugas yang disajikan oleh kelompok itu. Kelompok yang besar lebih efektif untuk kegiatan mencari fakta. Kelompok yang kecil lebih efektif pada tugas-tugas pengambialan tindakan. Pengetahuan kita mengenai kemalasan social menuntut bahwa jika manajemen menggunakan kelompok besar, hendaknya diupayakan untuk memberikan ukuran terhadap masing-masing kinerja didalam kelompok.

2.      Kepuasan
Kebanyakan orang lebih senang berkomunikasi dengan orang yang tingkat statusnya sama dengan mereka atau yang lebih tinggi daripada dengan orang yang memiliki status dibawah mereka. Akibatnya, kita seharusnya mengharapkan kepuasan akan lebih besar diantara karyawan yang pekerjaannya meminimalkan interaksi dengan individu-individu yang statusnya lebih rendah daripada mereka.
Hubungan antara ukuran kelompok dan kepuasan adalah seperti yang diharapkan orang secara intuitif dimana kelompok besar dikaitkan dengan kepuasan yang lebih rendah. Dengan meningkatnya ukuran, kesempatan untuk berpartisipasi dan berinteraksi secara social, demikian pula kemampuan anggota  untuk memihak keprestasi kelompok. Pada saat yang sama, dengan adanya lebih banyaknya anggota, akan lebih mudah mendorong terjadinya beda pendapat, konflik, dan pembentukan subkelompok- subkelompok, yang semuanya membuat kelompok itu menjadi entitas yang kurang menyenangkan untuk dimasuki.

 






Daftar pustaka
Robbins, Stephen P.2006.Perilaku Organisasi.Klaten:Indeks Kelompok GRAMEDIA.



















Imbalan dan Hukuman


IMBALAN DAN HUKUMAN
Perbedaan individu diutamakan dalam ilmu manajemen dan prilaku organisasi karena memiliki dampak langsung terhadap prilaku dengan jutaan cara yang berbeda. Individu membentuk prilaku organisasi dan pada akhirnya keberhasilan individu dan organisasi. Semua aktivitas organisasi selalu dipengaruhui oleh perbedaan individu.
            Suatu cara yang bermnfaat untuk memikirkan betapa pentingnnya perbedaan individu dalam mempengaruhi perilaku kerja adalah penggunaan kerangka kerja. Setiap individu berbeda dari indinidu lain dalam banyak hal. Seorang manajer perlu memikirkan bagaimana perbedaan semacam itu mempengaruhi prilaku dan kinerja kariawan.
            Factor demografis seperti usia, ras dan gender mempengaruhi pebedaan individu. Disamping itu genetic seseorang mempengaruhi perbedaan individu seperti tabiat. Rangkaian factor lain muncul dari latar belakang lingkungan seseorang.
            Praktik manajemen yang efektif mensyaratkan dikenalinyaperbedaan prilaku individu, dan jika mungkin dijadikan pertimbangan dalam mengelola prilaku organisasi. Untuk memahami perbedaan individu, seorang manajer harus (1) mengamati dan mengenali perbedaan tersebut dan (2) mempelajari hubungan antar variable yang mempengaruhi prilaku individu. Prilaku kerja adalah semua hal yang dilakukan seorang dalam lingkungan pekerjaan. Berbicara, mendengar, menciptakan, mengetik, dan yang lainnya adalah prilaku-prilaku kerja individu dalam dunia kerja.




A.     PRILAKU INDIVIDU
Variable-variabel perbedaan individu mempengaruhi prilaku prilaku kerja utama seperti produktifitas kariawan, kreatifitas, dan kinerja.
§    Keturunan
            Keturunan memberikan penjelasan genetic mengenai beberapa aspek keragaman manusia. Yang termasuk dalam pembahasan mengenai hereditas adalah perbedaan mengenai gender, ras dan latar blakang etnis. Perbedaan psikologis, mental, dan moral dipengaruhi oleh warisan genetic.
Berhubungan dengan konsep ketuunan, keanekaragaman berkenaan dengan atribut yang menjadikan orang berbeda dengan orang lain. Enam dimensi yang utama (dan stabil) mencakup usia, etnis, gende, atribut fisik, ras, dan orentasi seksual. Dimensi kdua (dan dapat berubah) mencakup latar belakang pendidikan, status pernikahan, keyakinan agama, kesehatan, dan pengalaman kerja.
Perkembangan dalam jenis gender, ras, usia, dan keanekaragaman etnis ditempat kerja membuat perbedaan nilai, etika kerja, dan norma prilaku tampak jelas. Komunikasi yang salah, ketidaksensitifan, ketidakpedulian, dan kekeasan lebih mungkin menjadi perhatian manajer yang utama.
            Mengapa keanekaragaman diperlukan? Penelitian menunjukkan bahwa kelompok kerja karyawan yang heterogen dan fungsional memberikan banyak keuntungan, seperti kreativitas yang lebih besar dalam memecahkan masalah, moral yang meningkat, dan pemasaran yang lebih baik tehadap konsumen yang berbeda.



§    Kemampuan dan Keterampilan
            beberapa kariawan, walawpun memiliki motivasi yang tinggi, tidak memiliki kemampuan  atau keterampilan untuk berkinerja dengan baik. Kemampuan dan keterampilan memainkan peranan yang penting dalam prilaku dan kinerja individu. Kemampuan adalah bakat seseorang untuk melakukan tugas fisik atau mental. Keterampilan adalah bakat yang dipelajari yang seseorang miliki untuk melakukan suatu tugas. Kemampuan seseorang umumnya stabil selama beberapa waktu. Keterampilan berubah seiring dengan pelatihan atau pengalaman. Orang dapat dilatih untuk  keterampilan memiliki baru.
Kemampuan berikut telah diidentifikasikan sebagai factor-faktor yang penting untuk membedakan kariawan yang brkinerja tinggi dengan kariawan yang berkinrja rendah:
  1. kemampuan mental
adalah alat prediksi keberhasilan pelatihan dan pekerjaan yang lebih baik etika memilih kandidat untuk suatu posisi tertentu. Kemampuan mental merujuk pada tingkat intelegensi seseorang dan dapat dibagi kedalam subkategori, yang mencakup kelancaran dan pemahaman verbal, alas an induktif dan deduktif, memori asosiatif, dan orientasi spasial.
  1. intelegensi emosi
            merujuk pada kemampuan seseorang untuk menyadari perasaan, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri
  1. tacid knowledge
            merujuk pada pengetahuan praktis yang diperoleh seorang kariawan melalui pengamatan dan pengalaman langsung.

§    SIKAP
Sikap merupakan penentu dari prilaku karena keduanya berhubungan dengan persepsi, kepribadian, perasaan, dan motivasi. Sikap merupakan keadaan menal yang dipelajari dan diorganisasikan melalui penglaman, menghasilkan pengaruh spesifik pada respon seseorang terhadap orang lain, objek, situasi yang berhubungan.
Salah satu teori menyatakan bahwa orang mencari kesesuaian antara keyakinan dan perasaan mereka terhadap objek dan menyatakan bahwa modifikasi sikap dapat dilakukan dengan mengubah sisi perasaan atau keyakinan. Teori tersebut berpendapat bahwa, kognisi, afeksi, dan prilaku saling menentukan dengan sikap.
Kognisi pada dasarnya adalah apa yang diketahui individu mengenai diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Kognitif mengimplikasikan proses sdar dalam memperoleh pengetahuan.
Afeksi merupakan komponen emosional dari suatu sikap; sering sekali dipelajari dari orang tua, guru, dan anggota kelompok kerja.
Disonansi kognitif adalah suatu keadaan mental dari kecemasan yang muncul ketika terdapat konflik antar berbagai kognitif individu (misalkan sikap dan keyakinan) setelah suatu keputusan diambil.
§    Mengubah Sikap
Proses perubahan sikap bergantung pada tiga factor umum:
  1. komunikator
kariawan lebih mungkin mengubah sikap mereka jika mereka mempercayai manajer, menyukai manajer dan mempersepsikan manajer memiliki kelebihan. Jika manajer tidak dipercaya, usahaanya untuk mengubah sikap akan menjadi tidak berguna karena kariawan tidak akan meyakini atau menerima pesan manajer.
  1. pesan
            meskipun manajer dipercaya, disukai, dan dilihat memiliki kelebihan, pesannyapun harus jelas, dapat dipahami, dan meyakinkan. Manajer berusaha untuk merubah sikap dengan mengirimkan pesan yang pesuasif.
  1. sitasi
            kemampuan manajer untuk mengubah sikap kariawan sebagian bergantung pada situasi dimana usaha tersebut dilakukan
Sikap dan Kepuasan Kerja
            Kepuasan kerja adalah sikap seseorang terhadap pekerjaan mereka. Hal tersebut dihasilkan dari persepsi mereka mengenai pekerjaan mereka dan tingkat kesesuaian antara individu dan organisasi. Berikut sejumlah factor yang berhubungan kepuasan 1. kerja:
  1. imbalan
            jumlah pembayaran yang diterima dan tingkat kesesuaian antara pembayaran tersebut dengan pekerjaan yang dilakukan.
  1. pekerjaan itu sendiri
            sejumlah mana pekerjaan dianggap menarik, menyediakan kesempatan untuk belajar, dan memberikan tanggung jawab.
  1. supervise
kompetisi teknis dan keterampilan intrpersonal dari atasan langsung.
  1. rekan kerja
sejauh mana rekan kerja brsahabat, kompeten, dan memberikan dukungan.

  1. kondisi pekerjaan
            sejauh mana lingkungan kerja fisik memberikan kenyamanan dan mendukung produktifitas.
  1. keamanan pekerjaan
            keyakinan bahwa posisi seseorng relative aman dan ada peluang untuk dapat terus bekerja dalam organisasi.

Kepuasan dan Kinerja Pekerjaan
            Salah satu persoalan yang paling banyak diperdebatkan dan kontrversial dalam studi kepuasan kerja dengan dengan kinerja pekerjaan atau efektifitas. Tiga pandangan umum mengenai pandangan ini telah diteemukan: (1) kepuasan kerja berpengaruh pada kinerja pekerjaan. (2) kinerja pekerjaan berpengaruh kepuasan kerja; dan (3) hubungan kepuasan kerja-kinerja pekerjaan dipengaruhi oleh variable lain seperti
Kepribadian
            Hubungan antaara prilaku dan kepribadian mungkin merupakan salah satu hal terkompleks yang harus difahami manajer. Ketika kita berbicara mengenai kepribadian seseorang, kita merujuk pada serangkaian perasaan dan prilaku yang relative stabil yang secara signifikan telah dibentuk oleh factor genetik dan factor lingkungan. Prinsipnya Walau banyak aspek dari pembentukan, perkmbangan, dan ekspresi kepribadian belum dipahami dengan sempurna, beberapa prinsipnya pada umumnya sudah diterima sebagai hal yang benar. Misalkan, pernyataan bahwa kepribadian:
  1. tampak diorganisasikan ke dalam pola-pola yang, pada beberapa tingkatan, dapat diamati dan dapat diukur
  2. memiliki aspek dangkal, seperti sikap ketika memimpin tim, dan lebih mendalam, seperti sentiment mengenai otoritas atau etika kerja yang lebih kuat.
  3. melibatkan karakteristk umum maupun unik. Setiap orang berbeda dengan orang lain
            Kepribadian merupakan hasil dari sejumlah keuatan yang secara bersama membantu membentuk individu unik. Beberapa kekuatan utama yang mempengaruhi kepribadian yaitu; keturunan, budaya, kelas social dan keanggotaan kelompok lain, serta hubungan keluarga.
B.   Tujuan dan jenis-jenis imbalan
            Ilmuan perilaku telah membagi imbalan kedalam dua kategori besar yaitu imbalan  intrinsik dan imbalan ekstrisik. Dalam penentuan sistem imbalan maka perlu diperhatikan bahwa sistem imbalan tersebut harus mampu memacu prestasi kerja. Sistem imbalan yang dirancang minimal mempertimbangkan dari tiga sudut pandang yaitu mempertimbangkan dari sudut kondisi dari organisasi  bersangkutan, anggota organisasinya dan sistem imbalan yang diterapkan pada organisasi lain yang sejenis. Hal ini penting dilakukan karena tujuan memberi imbalan pada dasarnya adalah memotivasi anggota organisasi, membuat kerasan pekerja yang sudah ada, dan menarik orang yang berkualitas masuk dalam organisasi.
1.      Memotivasi anggota organisasi
            Sistem imbalan yang dirancang oleh suatu organisasi harus mampu memacu motivasi kerja dari anggota organisasi agar berprestasi pada tingkat yang tinggi. Untuk itu imbalan yang dibentuk oleh organisasi harus memiliki nilai di mata organisasi.
2.      Membuat kerasan pekerja yang sudah ada
            Sistem imbalan yang dibuat oleh suatu organisasi ditujukan unutk mempertahankan perkerja yang sudah ada terutama perkerja yang berkualitas agar mereka kerasan berkerja dan tidak mudah tertarik untuk pindah ke organisasi yang lainya.
3.      Untuk menaci orang-orang yang berkualitas
            Kemajuan suatu organisasi ditentukan oleh kualitas orang-orang yang ada didalamnya. Organisasi harus mampu menarik orang-orang yang berkualitas agar mereka tertarik untuk masuk kedalam organisasi. Salah satu daya tarik seseorang masuk bergabung ke dalam suatu organisasi adalah sistem imbalan yang dibentuk dan diterapkan oleh organisasi tersebut.
Proses Pnghargaan

Dari gambar tersebut berusaha mengintegrasin kepuasan, motivasi, kinerja, dan penghargaan. Membaca gambar tersebut dari kiri ke kanan akan menunjukkan bahwa hanya dengan memberikan motivasi untuk menghasilkan usaha adalah tidakah  cut kup ntuk memancing kinerja yang diingikan. Kierja dihasillkan dari kombinasi usaha dan tingkat kemampuan, keteramppilan, dan pengalaman individu. Hasil kinerja individu dievaluasi secara formal maupun informal oleh manajemen dan dua jenis penghargaan dapat diberikan: intrinsik atau ekstrinsik. Penghargaan tersebut dievaluasi oleh indinidu, jika penghargaan tersebut memuaskan dan seimbang, individu mencapai tingkat kepuasan.
§   Jenis-jenis Imbalan
            Ilmuan perilaku telah membedakan imbalan kedalam dua kategori besar yaitu imbalan intrisik dan ekstrisik. Imbalan intrisik adalah imbalan yang berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri atau imbalan yang merupakan bagian dari pekerjaan itu sendiri. Menurut gibson, ivancevich, dan donnelly, bahwa imbalan intrisik meliputi     :
a.       Penyelesaian
            Kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik merupakan hal yang paling penting bagi sejumlah orang. Orang-orang tersebut memberi arti atas penyelesaian tugasnya. Dampak yang dirasakan seseorang dengan penyelesaian tugasnya dengan baik adalah imbalan terhadap dirinya sendiri. Kesempatan yang diberikan kepada seseorang untuk menyelesaikan tugasnya memberi dampak  motivasi bagi dirinya.
b.      Pencapaian Prestasi
            Pencapaian prestasi berkaitan dengan kemampuan untuk menyelesaikan tujuan yang menantang (challenging goal). Menurut Lock dalam teori motivasi penetapan tujuan, bahwa penetapan tujuan yang menantang dapat meningkatkan prestasi kerja, untuk itu  program pencapaian prestasi yang dilakukan oleh organisasi harus mempertimbangkan perbedaan kemampuan bawahannya.
c.       Otonomi
            Banyak orang merasa puas berkerja jika mereka diberikan kebebasan dalam pelaksanaan tugasnya dan diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Rasa otonomi dapat diciptakan melalui perwujudan keinginan tersebut.

d.      Pertumbuhan Pribadi
            Pertumbuhan pribadi pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan dan peluang yang tersedia bagi karyawan untuk mengembangkan keahlian dan karirnya, untuk memenuhi kebutuhan akan imbalan pertumbuhan pribadi dapat dilakukan dengan cara membuat mekanisme atau aturan pengembangan karir yang jelas.
§   Imbalan Ekstrinsik
Imbalan ekstrinsik adalah imbalan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan tapi berasal dari pekerjaan dan meliputi :
a.       Imbalan Finansial
            Imbalan finansial dapat berbentuk gaji, upah atau bonus. Dalam pandangan umum, istilah upah dan gaji sering kali dianggap sebagai sinonim padahal kedua istilah tersebut sebenarnya agak berbeda. Upah (wage) berkaitan dengan tarif pembayaran per jam dan seringkali dipergunakan untuk pekerja pada bagian produksi dan pemeliharaan (frenh,1994). Sedangkan gaji pada umumnya penerimaannya bersifat rutin dan tetap setiap bulan apakah mereka masuk kerja atau tidak misalnya karena cuti atau sakit, maka gajinya akan tetap diterima secara penuh. Bonus berkaitan dengan prestasi karyawan yang muktahir (current), di masa pemberiannya didasarkan pada prestasi-prestasi tertentu yang mampu diraih oleh karyawan.
b.      Jaminan Sosial (fringe benefit)
            Jaminan sosial antara lain meliputi jaminan hari tua,asuransi tenaga kerja, biaya opname dirumah sakit, biaya perumahan dan lain-lain. Jaminan sosial dapat memberikan rasa aman bagi karyawannya.
c.       Profit Sharing
            Profit sharing pada dasarnya mendorong partisipasi dan prestasi dari para pekerja dengan memberikan bagian tertentu dari laba perusahaan,baik berupa saham atau uang kas.
d.      Penghargaan/ Pengakuan
            Prestasi yang baik perlu mendapatkan pengakuan dan penghargaan atas jerih payah karyawan yang telah mereka sumbangkan pada organisasi. Penghargaan tersebut dapat diwujudkan dengan bermacam-macam cara, seperti memberikan pujian didepan umum, mengadakan pemilihan karyawan teladan, piagam dan lain sebagainya.
e.       Promosi
            Manajer menjadikan penghargaan promosi sebagai usaha untuk menempatkan orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat. Kreteria yang sering digunakan untuk meraih keputusan promosi adalah senioritas. Kinerja, jika diukur dengan akurat, sering kali memberikan pertimbangan yang signifikan dalam alokasi penghargaan promosi.
C.     Sistem Penghargaan Yang Inovatif
 I.      Gaji Berdasarkan Keterampilan
Sistem berdasarkan keterampilan setidaknya memiliki empat keunggulan, yakni:
  1. Karena karyawan memiliki lebih banyak keterampilan, maka organisasi meningkatkan fleksibelitasnya dengan menempatkan pekerja untuk menangani pekerjaan yang berbeda
  2. Karena gaji tidak ditentukan atas dasar klasifikasi pekerjaan, organisasi mungkin lebih memerlukanlebih sedikit klasifikasi pekerjaan
  3. Lebih sedikit karyawan yang diperlukan karena lebih banyak pekerja yang dapat dipertukarkan, dan
  4. Organisasi mungkin mengalami penurunan dalam pergantian karyawan dan ketidakhadiraan.
II. Perluasan Tingkat
Suatu elemen penghargaan finansialdimasa organisasi mengalami kesulitan adalah sistem peringkat. Sebagian besar sistem memiliki sejumlah besar peringkat. Maka diperlukan perrluasan tingkat yang akan mengurangi sejumlah peringkat gaji hingga tersisa relatif sedikit peringkat yang luas.
III. Pelayanan Concierge
            Ketersediaan pelayanan conciergeuntuk berbagai aktivitas yang harus dilakukan merupakan daya tarik perusahaan . menjamin karyawan untuk dapat berkosentrasi pada kinerja dapat dianggap sebagai tunjangan karyawan yang setimapl terhadap usaha dan pekerjaan.
IV. Penghargaan Berdasarkan TimTunjangan Parah Waktu
            Rancangan dari sistem ini adalah seharusnya sesuai dengan pengkelompokan dikeseluruhan rancangan organisasidalam situasi dimana tim relatif idependentdan tujuannya dapt diukur, ditetapkan, dan dievaluasi, penghargaan didasarkan atas pencapain tujuan.
V. Pembagian Keuntungan.
            Keberhasilan program pembagian keuntunganmemerlukan komtmen kuat untuk menerapkan efesiensi, baik dari manajemen dan karyawan. Selanjutnya komitment tersebut memerlukan komunikasi yang terbuka, penggunaan informasi bersama dan tingkat kepercayaan yang tinggi antara semua pihak.
D.    Mengatur Penghargaan
            Manajer diharapkan dengan keputusan bagaimana mengatur penghargaan. Ada tiga pendekatan teoritis dalam mengatur penghargaan, yakni:
a.      Reinforcement Positif
            Pondasi dasar dalam mengatur penghargaan melalui pendekatan ini adalah hubungan antara perilaku dan kosekuensinya. Tujuan pendeketan ini agar bisa menciptakan perilaku yang diinginkan.

b.      Modeling dan Imitasi Sosial
            Dalam menggunakan pendekatan ini menejer harus menentukan siapa yang merespon pendekatan ini, selain memilih model yang sesuai. Terakhir dimana model muncul perlu diperhatikan juga. Ini berarti jika kinerja yang tinggi merupakan tujuan dan merupakan hal yang hampir tidak bisa dicapai karena sumberdaya yang terbatas, menejer seharusnya menyimpulkan modeling tidak sesuai.
c.       Teori Ekspektasi
            Dalam pendekatan ini, manajer harus menentukan jenis penghargaan yang diinginkan oleh karyawannya dan melakukan hal apapun yang mungkin untuk mendistribusikan penghargaan tersebut. Jika tidak, menejer harus menciptakan kondisis sehingga apa yang tersedia dapat diterapkan sebagai penghargaan.
E.     HUKUMAN
            Hukuman merupakan konsekuensi yang kurang menyenangkan untuk suatu respon prilaku tertentu atau menghilangkan suatu bentuk penguat yang diinginkan karena rspon prilaku tertentu. Manajer bias memberikan hukuman dengan bentuk aplikasi  atau dengan bentuk menghapskan.  Tedapat hubungan atau kesatuan antara reson yang diidentifikasikan dan konsekuensi tindakan yang menentang atau stimulus ( pengurangan pembayaran bagi yang absent, mendapat memo menginformasikan prestasi kerja yang jelek.)
            Beberapa manajer menolak menggunakan hukuman karena unsure moral dimana mnyakitkan orang itu jelek dan perlu dihindarkan. Disiplin ialah penggnaan beberapa bentuk ukuman atau sangsi kalau kariawan menyimpang dari aturan. Dan semua ukuran disiplin berubah menjadi hukuman. Contohnya absensi yang dilakukan secara sering mengakibatkan diskor selama tiga hari dari pekerjaan. Kalau orang yang disiplin tidak menyenangi pekerjaan dan lebih suka tinggal dirumah ia tidak merasa di hokum.
            Hukuman dan prilaku, hukuman mempunyai pengaruh terhadap prilaku dengan memperlemah antara stimulus dan respon. Kemudian, salah satu para ahli memutuskan bahwa kuman tidak mempunyai akibat melemahkan prilaku. Ia mengatakan kemanapun hukuman dimaksudkan memprlemah respon dan merupakan akibat tidak langsung. Hukuman menjadi kaca dari tindakan memberikan imbalan. Hukuman merupakan suatu contoh pekerjaan dalam mengatakan pada seseorang apa yang sebaiknya tidak dilakukan tetapi tidak adainformasi yang bias mengatakan pada seseorang mana alternative prilaku tertentu yang sebaiknya diikuti.
§    TUJUAN  PEMBERIAN HUKUMAN
            Alasan menentang penggunaan hukuman: pertama, tujuan hukuman diasumsikan untuk mengurangi terjadinya perillaku yang mejai sebab dihukum. Tetapi kalau cukup keras dan diterapkan melebihi rentang waktu tertentu, hal ini juga menekan timbulnya prilaku yang diinginkan. Kedua, beberapa mengansumsikan bahwa penggunaan hukuman akan menghasilkan akibat lain yang tidak diinginkan (seperti: kekawatiran, agresifitas,). Mereka yang dihukum mungkin mencoba lari atau menghindar (seperti membols keluar) atau menunjukkan sikap permusuhan seperti sabotase terhdap manajemen. Ketiga akibat hukuman yang hanya bersifat sementara seksli ancaman hukuman hlang respon yang tidak diinginkan akan kembali muncul. Jadi ancaman hukuman harus selalu ada atau digunakan. Hukuman  bias memberikan hasilnya hal ini dapat menghasilkan penguat yang positif bagi manajer untuk melanjutkan penggunaannya. Keempat, mealui pengamatan hukuman dapat menghasilakn respon negative dari rekan kerja dari orang yang dihukum.
            Kondisi penyampain hukuman yang digunakan agar ebih efisien. Beberapa kondisi penyampaian hukuman dapat membuat penggunanya menjadi memungkinkan dan lebih efektif.


1.      Waktu
            Waktu untuk menyampaikan hukuman penelitian menyarankan bahwa evektifitas hukuman meningkat bila kondisi menekan diberikan seegera sesudah respons yang harus dihukum
2.       intensitas
            hukuman mencapai efektifitas terbesar bila stimulus yang menentang relative intens. Implikasi ondisi ini akan menjadi efektif, hukuman harus mendapat perhatian segera dari orang yang dihukum.
3.       Jadwal
            akibat hukuman tergantung dari jadual penghukuman. Hukuman bias disampaikan setelah setiap respon yang jelek atau sesudah sejumlah respon jelek terjadi. Hukuman sesudah setiap respons(jadual berkelanjutan), periode waktu berfariasi dan tetap sesudah prilaku yang diinginkan terjadi(jadual interval tetap dan bervariasi), atau sesudah sejumlah respons variable maupun tetap terjadi(rasio jadual variable atau tetap diberikan atas dasar jadual)
4.       klarifikasi
            kesadaran memainkan peran yang penting dalam penyampaian hukuman. Memberikan alasan yang jelas tidak mendua dan memperhatikan konsekuensi masa datang bila respons berulang akan efektif. Penekanan pada orang dengan respons spesifik merupakan tanggung jawab bagi tindakan manajer terutama menginformasikan pada orang bersangkutan apa yang secara tepat tidak perlu dilakukan.

Kesimpulan
            Setiap perusahaan baik peruasahaan swasta maupun negeri dari perusahaan besar dan yang kecil, yang memiliki pegawai. Perusahaan itu harus memperhatikan kesejahteraan karyawanya agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Oleh karena itu para manajemen perlu memperhatikan karakter, sifat, perilaku dan kemampuan kariawan tersebut guna dapat mengetahui imbalan apa yang harus diberikan kepadanya dan apabila mereka melakukan kesalahan maka manajer harus tau hukuman apa yang patas diberikan. Oleh karena itu manajer perlu mempelajari imbalan dan hukuman dalam perilaku organisasi guna dapat memotivasi kariawanya untuk menghasilkan hasil yang maksimal dan untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan perusahaan.
            Sekian yang dapat kami sampaikan bila ada salah kata,kami mohon permakluman dan juga semoga makalah ini dapat berguna bagi orang lain nantinya.

Daftar Pustaka
Drs. Gitosudarmom indiyo,M.Com. (Hons), perilaku organisasi, BPFE, yogyakarta.
Drs. Sudita nyoman,M.M. peilaku organisasi, BPFE, yogyakarta.